Minggu, 16 November 2014

TRANSKULTURAL NURSING


Peran perawat dalam upaya penyembuhan penyakit yang diderita pasien sangatlah dominan. Karena perawat adalah ujung tombak dalam memegang peran di rumah sakit, sebagai actor yang berhadapan langsung dengan pasien dalam waktu yang lama dan rutin. Oleh karena itu dibutuhkan totalitas seorang perawat yang professional. Profesionalisme seorang perawat dapat dipacu dengan menumbuhkan kemauan serta semangat perawat untuk mengembangkan dirinya dibidang ilmu keperawatan. Untuk melakukan intervensi pada pasien dibutuhkan pendekatan-pendekatan tertentu. Salah satu model pendekatan yang perlu diingat adalah model pemenuhan harapan pasien, dimana pemenuhan harapan pasien akan dapat terpenuhi bila perawat mengacu pada pengalaman masa lampau dalam hidup pasien yang sangat dipengaruhi oleh internalisasi nilai-nilai budaya yang sudah menyatu dalam diri pasien.
Latar budaya pada setiap individu tentu berbeda, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap budaya bersifat kompleks.  Selain latar belakang, lingkungan hidup dan pengalaman hidup setiap individu juga berbeda. Salahsatu factor yang mempengaruhi dinamika nilai budaya adalah perkembangan IPTEK. Hal iniikut serta membentuk paradigm seseorang terhadap realita yang telah dihadapinya. Realita yang seperti ini menuntut seorang perawat yang berhadapan dengan pasien harus mampu memahami kondisi pasien, bukan hanya dari sisi metode pelayanan klinis teknis keperawatan namun juga pendekatan nilai-nilai budaya yang beraneka ragam pada pasien yang harus dimengerti dan dipahami, agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara holistik. Pelayanan perawatan akan dikatakan berkualitas apabila layanan yang diberikan oleh perawat dilandasi pada standar keperawatan yang mampu memenuhi harapan pasiennya.
Dalam transkultural keperawatan mengandung makna pemberian asuhan keperawatan lintas budaya yang saling mempengaruhi.  Leininger (1991) , mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya yang mempengaruh seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada pasien atau klien. Croos, T., Bazron, B., Dennis, K., and Isaacs, M. (1989)  memberikan  acuan lima elemen budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat dalam intervensi keperawatan, yaitu :
1.      menilai keanekaragaman budaya
2.      mempunyai kapasitas untuk meng-assessment budaya
3.      menyadari bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent dalam ketika terjadi interaksi budaya
4.      mempunyai pengetahuan budaya yang  sudah dilembagakan
5.      mempunyai adaptasi yang terus menerus  dikembangkan dalam upaya merefleksikan  dan memamahami keanekaragaman budaya.
Kelima element tersebut hendaknya diwujudkan dalam pelayanan perawat kepada pasien baik di rumah sakit maupun di masyarakat. Dengan kata lain seorang perawat harus mampu mewujudkan peran dan fungsi seorang perawat mulai dari tingkat pelaksana, pengelola, pendidik sampai pada peneliti. Karena setiap perwujudan peran seorang perawat akan selalu berinteraksi dengan manusia pada umumnya dan pasien atau klien pada khususnya.
Meyer CR, (1996) memberikan empat tuntutan yang harus dimiliki seorang perawat sebagai provider dalam mengimplementasikan kompetensi asuhan keperawatan. yaitu 1). mempunyai kapabilitas menghadapi tantangan langsung perbedaan klinis dari klien yang berbeda suku dan ras, 2). mempunyai kemampuan komunikasi dalam menghadapi klien yang beraneka ragam latar belakang, 3). mempunyai kapabilitas dalam bidang etnik 4). mempunyai kapibilitas menumbuhkan kepercayaan.
Transcultural nursing harus dikembangkan oleh seorang perawat dengan cara selalu membuka diri dengan berbagai budaya yang ada, memotivasi dirinya agar mampu dan mau untuk selalu menevaluasi terdahap tindakannya sebagai perawat dalam upaya meningkatkan mutu keperawatan. Di era globalisasi ini, tuntutan akan tenaga perawat kesehatan  yang profesional sangat besar. Keperawatan sebagai profesi telah memiliki body of knowledge yang luas serta dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam masyarakat. Transcultural Nursing merupakan suatu lingkup keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Asumsi mendasar dari teori Leininger adalah perilaku caring. Caring adalah dasar utama dalam keperawatan. Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu atau klien secara utuh.
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya dianalogikan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model).
Tenaga keperawatan harus mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan ilmunya, karena tuntutan masyarakat dari hari kehari semakin besar dan kompleks. profesionalisme tenaga keperawatan terus menerus ditingkatkan kualitasnya serta diimplementasikan secara maksimal kepada masyarakat agar kehidupan keperawatan tidak ditinggal atau diabaikan oleh masyarakat atau oleh profesi kesehatan lain yang memiliki peran dan fungsi yang nampak jelas dalam masyarakat sehingga mendapatkan perhatian dari masyarakat. Mengimplementasikan pendidikan multikultural dalam pendidikan keperawatan mungkin saja akan mengalami hambatan atau kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi. Antara lain yaitu adanya perbedaan pemaknaan terhadap pendidikan multicultural dan munculnya gejala diskontinuitas nilai budaya. Oleh karena itu seluruh pihak yang terkait dalam pemberian pendidikan multicultural, bahkan orang tua dan tokoh masyarakat perlu memperhatikan adanya perbedaan sosiokultural yang ada pada peserta didik keperawatan. Dalam pasal 4 UU Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasionai, dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

Era globalisasi mengasilkan  berbagai perubahan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun termasuk profesi keperawatan. Jalannya komunikasi dalam rangka pertukaran informasi begitu cepat, selain itu sarana transportasi juga semakin canggih dan modern. Kemajuan IPTEK terus bekembang sehingga sangat berpengaruh pada upaya mempercepat proses interaksi antar budaya dalam setiap profesi, termasuk profesi keperawatan. Sejalan dengan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan, pendidikan tenaga keperawatan mau tidak mau, senang maupun tidak senang harus membekali peserta didiknya tentang asuhan keperawatan yang akurat dengan nilai-nilai budaya yang menjadi milik individu atau klien. Bukan hanya management keperawatan yang harus menjadi acuan dalam asuhan keperawatan, tetapi juga  nilai-nilai budaya menjadi suatu yang penting dalam setiap tindakan keperawatan.
Kemampuan unggul dan profesionalisme seorang perawat kini menjadi tantangan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Ryan dan kawan-kawan di Amerika Serikat tentang transcultural nursing. Dan  menghasilkan rekomendasi :
  1. Tenaga keperawatan harus mengerti, memahami transcultural nursing
  2. Transcultural nursing sebagai kesatuan integral dalam setiap intervensi, setiap tenaga paramedis diharapkan mempunyai kompetensi.
  3. Setiap lembaga pendidikan tenaga paramedis hendaknya memberikan kompe tensi transcultural nursing kepada mahasiswa/i,
  4. Pengetahuan dan Penelitian tentang transcultural nursing terus menerus dilakukan dalam praktik / pelayanan.
  5. Di lahan praktik / pelayanan perlu adanya pendamping yang mengerti dan mengerti transcultural nursing
            Leininger dan Mc Farland, mengatakan bahwa pada tahun 2015,  semua tenaga parmedis termasuk perawat sudah siap secara adekuat pada setiap tindakan keperawatan antara pengetahuan maupun  konsep keperawatan dengan nilai-nilai lintas budaya pada setiap pasien yang dilayaninya, karena tantangan terhadap lintas nilai-nilai budaya pada era globalisasi akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan, kualitas pelayanan yaitu intervensi kepada pasien berupa asuhan keperawatan yang baik dan benar serta pemenuhan kebutuhan pasien secara keseluruhan atau holistic.

Daftar Pustaka
Asy’arie, M.(2004). Pendidikan multikultural dan konflik bangsa. Diakses pada 19 November 2013, dari http://www.kompas.co.id.
Leininger, M.(1991). Transcultural nursing: the study and practice field. Imprint, 38(2), 55-66. Diakses pada 19 November 2013 dari http://www.culturediversity.org/about.htm
Murphy, S.C.(2006). Mapping the literature of transcultural nursing. Diakses pada 19 November 2013, dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1463039/
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional.

0 komentar:

Posting Komentar