Peran
perawat dalam upaya penyembuhan penyakit yang diderita pasien sangatlah
dominan. Karena perawat adalah ujung tombak dalam memegang peran di rumah
sakit, sebagai actor yang berhadapan langsung dengan pasien dalam waktu yang
lama dan rutin. Oleh karena itu dibutuhkan totalitas seorang perawat yang
professional. Profesionalisme seorang perawat dapat dipacu dengan menumbuhkan
kemauan serta semangat perawat untuk mengembangkan dirinya dibidang ilmu
keperawatan. Untuk melakukan intervensi pada pasien dibutuhkan
pendekatan-pendekatan tertentu. Salah satu model pendekatan yang perlu diingat
adalah model
pemenuhan harapan pasien, dimana pemenuhan harapan pasien akan dapat terpenuhi
bila perawat mengacu pada pengalaman
masa lampau dalam hidup pasien yang sangat dipengaruhi oleh internalisasi
nilai-nilai budaya yang sudah menyatu dalam diri pasien.
Latar budaya pada setiap individu
tentu berbeda, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap budaya bersifat
kompleks. Selain latar belakang,
lingkungan hidup dan pengalaman hidup setiap individu juga berbeda. Salahsatu
factor yang mempengaruhi dinamika nilai budaya adalah perkembangan IPTEK. Hal
iniikut serta membentuk paradigm seseorang terhadap realita yang telah
dihadapinya. Realita yang seperti ini menuntut seorang perawat yang berhadapan
dengan pasien harus mampu memahami kondisi pasien, bukan hanya dari sisi metode pelayanan klinis
teknis keperawatan namun juga pendekatan nilai-nilai budaya yang beraneka ragam
pada pasien yang harus dimengerti dan dipahami, agar kebutuhan pasien dapat
terpenuhi secara holistik. Pelayanan perawatan akan dikatakan berkualitas
apabila layanan yang diberikan oleh perawat dilandasi pada standar keperawatan
yang mampu memenuhi harapan pasiennya.
Dalam transkultural keperawatan
mengandung makna pemberian asuhan keperawatan lintas budaya yang saling mempengaruhi. Leininger (1991) , mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang
berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya yang mempengaruh
seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada pasien atau klien. Croos,
T., Bazron, B., Dennis, K., and Isaacs, M. (1989) memberikan acuan
lima elemen budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang
perawat dalam intervensi keperawatan, yaitu :
1.
menilai keanekaragaman budaya
2.
mempunyai kapasitas untuk meng-assessment budaya
3.
menyadari bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent dalam ketika terjadi
interaksi budaya
4.
mempunyai pengetahuan budaya yang sudah dilembagakan
5.
mempunyai adaptasi yang terus menerus dikembangkan dalam upaya
merefleksikan dan memamahami keanekaragaman budaya.
Kelima
element tersebut hendaknya diwujudkan dalam pelayanan perawat kepada pasien
baik di rumah sakit maupun di masyarakat. Dengan kata lain seorang perawat
harus mampu mewujudkan peran dan fungsi seorang perawat mulai dari tingkat
pelaksana, pengelola, pendidik sampai pada peneliti. Karena setiap perwujudan
peran seorang perawat akan selalu berinteraksi dengan manusia pada umumnya dan
pasien atau klien pada khususnya.
Meyer
CR, (1996) memberikan empat tuntutan yang harus dimiliki seorang perawat
sebagai provider dalam
mengimplementasikan kompetensi asuhan keperawatan. yaitu 1). mempunyai
kapabilitas menghadapi tantangan langsung perbedaan klinis dari klien yang
berbeda suku dan ras, 2). mempunyai kemampuan komunikasi dalam menghadapi klien
yang beraneka ragam latar belakang, 3). mempunyai kapabilitas dalam bidang etnik 4). mempunyai kapibilitas
menumbuhkan kepercayaan.
Transcultural
nursing harus dikembangkan oleh seorang perawat dengan cara selalu membuka diri
dengan berbagai budaya yang ada, memotivasi dirinya agar mampu dan mau untuk
selalu menevaluasi terdahap tindakannya sebagai perawat dalam upaya
meningkatkan mutu keperawatan. Di era globalisasi ini, tuntutan akan tenaga
perawat kesehatan yang profesional
sangat besar. Keperawatan sebagai profesi telah memiliki body of knowledge yang
luas serta dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam masyarakat. Transcultural
Nursing merupakan suatu lingkup keilmuwan
budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang
perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan
sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan
ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Asumsi mendasar
dari teori Leininger adalah perilaku caring. Caring adalah dasar utama dalam
keperawatan. Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan
dalam memberikan dukungan kepada individu atau klien secara utuh.
Leininger (1985) mengartikan
paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya dianalogikan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model).
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya dianalogikan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model).
Tenaga
keperawatan harus mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan ilmunya,
karena tuntutan masyarakat dari hari kehari semakin besar dan kompleks.
profesionalisme tenaga keperawatan terus menerus ditingkatkan kualitasnya serta
diimplementasikan secara maksimal kepada masyarakat agar kehidupan keperawatan
tidak ditinggal atau diabaikan oleh masyarakat atau oleh profesi kesehatan lain
yang memiliki peran dan fungsi yang nampak jelas dalam masyarakat sehingga
mendapatkan perhatian dari masyarakat. Mengimplementasikan pendidikan
multikultural dalam pendidikan keperawatan mungkin saja akan mengalami hambatan
atau kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat
perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi. Antara lain yaitu adanya perbedaan
pemaknaan terhadap pendidikan multicultural dan munculnya gejala diskontinuitas
nilai budaya. Oleh karena itu seluruh pihak yang terkait dalam pemberian
pendidikan multicultural, bahkan orang tua dan tokoh masyarakat perlu memperhatikan
adanya perbedaan sosiokultural yang ada pada peserta didik keperawatan. Dalam pasal
4 UU Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasionai, dijelaskan bahwa
pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan
menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
Era
globalisasi mengasilkan berbagai
perubahan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun termasuk profesi
keperawatan. Jalannya komunikasi dalam rangka pertukaran informasi begitu cepat,
selain itu sarana transportasi juga semakin canggih dan modern. Kemajuan IPTEK
terus bekembang sehingga sangat berpengaruh pada upaya mempercepat proses
interaksi antar budaya dalam setiap profesi, termasuk profesi keperawatan.
Sejalan dengan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan, pendidikan tenaga
keperawatan mau tidak mau, senang maupun tidak senang harus membekali peserta
didiknya tentang asuhan keperawatan yang akurat dengan nilai-nilai budaya yang
menjadi milik individu atau klien. Bukan hanya management keperawatan yang
harus menjadi acuan dalam asuhan keperawatan, tetapi juga nilai-nilai budaya menjadi suatu yang penting
dalam setiap tindakan keperawatan.
Kemampuan
unggul dan profesionalisme seorang perawat kini menjadi tantangan yang sangat
signifikan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Ryan dan kawan-kawan di Amerika Serikat tentang transcultural nursing. Dan menghasilkan rekomendasi :
- Tenaga keperawatan harus mengerti, memahami transcultural nursing
- Transcultural nursing sebagai kesatuan integral dalam setiap intervensi, setiap tenaga paramedis diharapkan mempunyai kompetensi.
- Setiap lembaga pendidikan tenaga paramedis hendaknya memberikan kompe tensi transcultural nursing kepada mahasiswa/i,
- Pengetahuan dan Penelitian tentang transcultural nursing terus menerus dilakukan dalam praktik / pelayanan.
- Di lahan praktik / pelayanan perlu adanya pendamping yang mengerti dan mengerti transcultural nursing
Leininger dan Mc Farland, mengatakan
bahwa pada tahun 2015, semua tenaga parmedis termasuk perawat sudah siap
secara adekuat pada setiap tindakan keperawatan antara pengetahuan maupun konsep keperawatan dengan nilai-nilai lintas
budaya pada setiap pasien yang dilayaninya, karena tantangan terhadap lintas
nilai-nilai budaya pada era globalisasi akan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan, kualitas pelayanan yaitu intervensi kepada pasien berupa asuhan
keperawatan yang baik dan benar serta pemenuhan kebutuhan pasien secara
keseluruhan atau holistic.
Daftar Pustaka
Asy’arie,
M.(2004). Pendidikan multikultural dan konflik bangsa. Diakses pada 19 November
2013, dari http://www.kompas.co.id.
Leininger, M.(1991). Transcultural nursing: the study and practice
field. Imprint, 38(2), 55-66. Diakses pada 19 November 2013 dari http://www.culturediversity.org/about.htm
Murphy, S.C.(2006).
Mapping the literature of transcultural nursing. Diakses pada 19 November 2013,
dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1463039/
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional.
