Minggu, 16 November 2014

TRANSKULTURAL NURSING


Peran perawat dalam upaya penyembuhan penyakit yang diderita pasien sangatlah dominan. Karena perawat adalah ujung tombak dalam memegang peran di rumah sakit, sebagai actor yang berhadapan langsung dengan pasien dalam waktu yang lama dan rutin. Oleh karena itu dibutuhkan totalitas seorang perawat yang professional. Profesionalisme seorang perawat dapat dipacu dengan menumbuhkan kemauan serta semangat perawat untuk mengembangkan dirinya dibidang ilmu keperawatan. Untuk melakukan intervensi pada pasien dibutuhkan pendekatan-pendekatan tertentu. Salah satu model pendekatan yang perlu diingat adalah model pemenuhan harapan pasien, dimana pemenuhan harapan pasien akan dapat terpenuhi bila perawat mengacu pada pengalaman masa lampau dalam hidup pasien yang sangat dipengaruhi oleh internalisasi nilai-nilai budaya yang sudah menyatu dalam diri pasien.
Latar budaya pada setiap individu tentu berbeda, dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap budaya bersifat kompleks.  Selain latar belakang, lingkungan hidup dan pengalaman hidup setiap individu juga berbeda. Salahsatu factor yang mempengaruhi dinamika nilai budaya adalah perkembangan IPTEK. Hal iniikut serta membentuk paradigm seseorang terhadap realita yang telah dihadapinya. Realita yang seperti ini menuntut seorang perawat yang berhadapan dengan pasien harus mampu memahami kondisi pasien, bukan hanya dari sisi metode pelayanan klinis teknis keperawatan namun juga pendekatan nilai-nilai budaya yang beraneka ragam pada pasien yang harus dimengerti dan dipahami, agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara holistik. Pelayanan perawatan akan dikatakan berkualitas apabila layanan yang diberikan oleh perawat dilandasi pada standar keperawatan yang mampu memenuhi harapan pasiennya.
Dalam transkultural keperawatan mengandung makna pemberian asuhan keperawatan lintas budaya yang saling mempengaruhi.  Leininger (1991) , mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya yang mempengaruh seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada pasien atau klien. Croos, T., Bazron, B., Dennis, K., and Isaacs, M. (1989)  memberikan  acuan lima elemen budaya yang perlu diketahui dan mampu diimplemetasikan oleh seorang perawat dalam intervensi keperawatan, yaitu :
1.      menilai keanekaragaman budaya
2.      mempunyai kapasitas untuk meng-assessment budaya
3.      menyadari bahwa budaya bersifat dinamis dan inherent dalam ketika terjadi interaksi budaya
4.      mempunyai pengetahuan budaya yang  sudah dilembagakan
5.      mempunyai adaptasi yang terus menerus  dikembangkan dalam upaya merefleksikan  dan memamahami keanekaragaman budaya.
Kelima element tersebut hendaknya diwujudkan dalam pelayanan perawat kepada pasien baik di rumah sakit maupun di masyarakat. Dengan kata lain seorang perawat harus mampu mewujudkan peran dan fungsi seorang perawat mulai dari tingkat pelaksana, pengelola, pendidik sampai pada peneliti. Karena setiap perwujudan peran seorang perawat akan selalu berinteraksi dengan manusia pada umumnya dan pasien atau klien pada khususnya.
Meyer CR, (1996) memberikan empat tuntutan yang harus dimiliki seorang perawat sebagai provider dalam mengimplementasikan kompetensi asuhan keperawatan. yaitu 1). mempunyai kapabilitas menghadapi tantangan langsung perbedaan klinis dari klien yang berbeda suku dan ras, 2). mempunyai kemampuan komunikasi dalam menghadapi klien yang beraneka ragam latar belakang, 3). mempunyai kapabilitas dalam bidang etnik 4). mempunyai kapibilitas menumbuhkan kepercayaan.
Transcultural nursing harus dikembangkan oleh seorang perawat dengan cara selalu membuka diri dengan berbagai budaya yang ada, memotivasi dirinya agar mampu dan mau untuk selalu menevaluasi terdahap tindakannya sebagai perawat dalam upaya meningkatkan mutu keperawatan. Di era globalisasi ini, tuntutan akan tenaga perawat kesehatan  yang profesional sangat besar. Keperawatan sebagai profesi telah memiliki body of knowledge yang luas serta dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam masyarakat. Transcultural Nursing merupakan suatu lingkup keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Asumsi mendasar dari teori Leininger adalah perilaku caring. Caring adalah dasar utama dalam keperawatan. Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu atau klien secara utuh.
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya dianalogikan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model).
Tenaga keperawatan harus mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan ilmunya, karena tuntutan masyarakat dari hari kehari semakin besar dan kompleks. profesionalisme tenaga keperawatan terus menerus ditingkatkan kualitasnya serta diimplementasikan secara maksimal kepada masyarakat agar kehidupan keperawatan tidak ditinggal atau diabaikan oleh masyarakat atau oleh profesi kesehatan lain yang memiliki peran dan fungsi yang nampak jelas dalam masyarakat sehingga mendapatkan perhatian dari masyarakat. Mengimplementasikan pendidikan multikultural dalam pendidikan keperawatan mungkin saja akan mengalami hambatan atau kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi. Antara lain yaitu adanya perbedaan pemaknaan terhadap pendidikan multicultural dan munculnya gejala diskontinuitas nilai budaya. Oleh karena itu seluruh pihak yang terkait dalam pemberian pendidikan multicultural, bahkan orang tua dan tokoh masyarakat perlu memperhatikan adanya perbedaan sosiokultural yang ada pada peserta didik keperawatan. Dalam pasal 4 UU Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasionai, dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

Era globalisasi mengasilkan  berbagai perubahan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun termasuk profesi keperawatan. Jalannya komunikasi dalam rangka pertukaran informasi begitu cepat, selain itu sarana transportasi juga semakin canggih dan modern. Kemajuan IPTEK terus bekembang sehingga sangat berpengaruh pada upaya mempercepat proses interaksi antar budaya dalam setiap profesi, termasuk profesi keperawatan. Sejalan dengan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan, pendidikan tenaga keperawatan mau tidak mau, senang maupun tidak senang harus membekali peserta didiknya tentang asuhan keperawatan yang akurat dengan nilai-nilai budaya yang menjadi milik individu atau klien. Bukan hanya management keperawatan yang harus menjadi acuan dalam asuhan keperawatan, tetapi juga  nilai-nilai budaya menjadi suatu yang penting dalam setiap tindakan keperawatan.
Kemampuan unggul dan profesionalisme seorang perawat kini menjadi tantangan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Ryan dan kawan-kawan di Amerika Serikat tentang transcultural nursing. Dan  menghasilkan rekomendasi :
  1. Tenaga keperawatan harus mengerti, memahami transcultural nursing
  2. Transcultural nursing sebagai kesatuan integral dalam setiap intervensi, setiap tenaga paramedis diharapkan mempunyai kompetensi.
  3. Setiap lembaga pendidikan tenaga paramedis hendaknya memberikan kompe tensi transcultural nursing kepada mahasiswa/i,
  4. Pengetahuan dan Penelitian tentang transcultural nursing terus menerus dilakukan dalam praktik / pelayanan.
  5. Di lahan praktik / pelayanan perlu adanya pendamping yang mengerti dan mengerti transcultural nursing
            Leininger dan Mc Farland, mengatakan bahwa pada tahun 2015,  semua tenaga parmedis termasuk perawat sudah siap secara adekuat pada setiap tindakan keperawatan antara pengetahuan maupun  konsep keperawatan dengan nilai-nilai lintas budaya pada setiap pasien yang dilayaninya, karena tantangan terhadap lintas nilai-nilai budaya pada era globalisasi akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan, kualitas pelayanan yaitu intervensi kepada pasien berupa asuhan keperawatan yang baik dan benar serta pemenuhan kebutuhan pasien secara keseluruhan atau holistic.

Daftar Pustaka
Asy’arie, M.(2004). Pendidikan multikultural dan konflik bangsa. Diakses pada 19 November 2013, dari http://www.kompas.co.id.
Leininger, M.(1991). Transcultural nursing: the study and practice field. Imprint, 38(2), 55-66. Diakses pada 19 November 2013 dari http://www.culturediversity.org/about.htm
Murphy, S.C.(2006). Mapping the literature of transcultural nursing. Diakses pada 19 November 2013, dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1463039/
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional.

Sabtu, 15 November 2014

mekanisme adaptasi indra pencium


Pernahkah saudara mencium bau yang kurang sedap saat pertama memasuki kamar mandi? Sesaat saudara mencium bau yang tidak sedap, dan beberapa saat bau tidak sedap tersebut hilang. Dan saat saudara mencuim bau tersebut, saudara langsung menutup hidung dan bernapas melalui mulut?
Gambarkan mekanisme yang terjadi dalam tubuh saat saudara mengalami kasus diatas!
Ø  Kita memiliki alat indra penciuman yang sangat baik yaitu hidung. Hidung sangat peka terhadap rangsangan zat aromatik. Ketika kita mencium bau yang tidak sedap itu tandanya sensor hidung telah menangkap zat aromatik yang menyengat di lingkungan kita, dengan gerak reflex maka seketika kita menutup hidung, kemudian benafas melalui mulut, hal itu kita lakukan karena mulut tidak memiliki sensor penangkap bau seperti pada hidung, sehingga  kita tetap dapat bernafas tanpa mencium bau tidak sedap tersebut. Kemudian  terjadi proses adaptasi yang baik pada indra penciuman, sehingga ketika kita bernafas dengan hidung dan menghirup aroma tersebut maka kesan yang muncul sudah tidak menyengat lagi, atau bahkan sudah hilang.

Selasa, 23 September 2014

Hindari Olahraga Segera Setelah Makan

Habis Makan, Jangan Langsung Olahraga

Kita selalu disarankan untuk makan dulu sebelum berolahraga. Sebab, makanan akan berfungsi sebagai energi. Tidak makan dulu, tentu akan membuat tubuh kita kekurangan energi. Namun, sebaiknya jangan langsung berolahraga  setelah makan . Mengapa?Cara kita makan ternyata memiliki dampak yang sangat besar bagi performa latihan kita. Jika Anda tidak makan dengan benar sebelum berolahraga, tubuh Anda tidak memiliki cadangan glukosa yang cukup. Hal ini akan membuat makanan berubah menjadi lemak lebih cepat.Lalu apa yang terjadi ketika kita langsung berolahraga setelah makan , apalagi dalam keadaan kekenyangan?Ketika kita berolahraga, otot-otot yang mendorong gerakan tubuh Anda membutuhkan peredaran darah ekstra dari jantung. Saat beristirahat, 15-20 persen darah yang bersirkulasi di dalam tubuh memberi makan otot-otot kerangka. Namun selama berolahraga, darah yang bersirkulasi jumlahnya meningkat jadi 80 persen. Untuk memfasilitasi perubahan ini, tubuh Anda akan menyempitkan dan melebarkan pembuluh darah. Pembuluh-pembuluh pada sistem yang tidak dibutuhkan untuk berolahraga, seperti pencernaan, urine, dan reproduksi, akan disempitkan, membatasi jumlah darah yang mengalir pada organ-organ ini. Jika Anda langsung berolahraga setelah makan, organ-organ pencernaan dan otot-otot kerangka akan "bertempur" untuk meminta aliran darah. Hasilnya, latihan pun jadi sulit dilakukan.Langsung makan sebelum berolahraga, apalagi dalam porsi yang berlebihan, juga akan membuat Anda merasa lamban, dan lesu. Perut pun jadi terasa tak nyaman, mual, dan mungkin kram. Anda tentu tidak ingin kebiasaan Anda berolahraga menghambat proses pencernaan Anda, kan?Terlepas dari jam berapa Anda memilih untuk latihan olahraga, pastikan waktunya dua sampai tiga jam setelah Anda makan. Jika waktu makan Anda sudah berlalu beberapa jam, para pakar menyarankan Anda untuk mengudap sedikit cemilan satu jam sebelum latihan untuk mengisi bahan bakar di dalam tubuh dengan semestinya. Siapkan kombinasi karbohidrat dan sedikit protein, dengan jumlah tak lebih dari 200 kalori.Jika Anda berniat latihan pagi-pagi, ingatlah selalu bahwa berolahraga dalam keadaan perut kosong bukanlah kondisi yang ideal. Mungkin Anda tidak terbiasa sarapan, dan memaksa diri makan sebelum berolahraga membuat Anda tak nyaman. Namun mengisi tubuh Anda dengan nutrisi yang tepat sangat diperlukan untuk bekal berolahraga. Roti bakar isi pisang, roti dengan olesan alpukat, atau smoothie buah-buahan, bisa jadi pilihan untuk Anda.

Tips Sehat Saat Berpuasa

Berikut tip-tip sehat lain yang bisa Anda coba agar tubuh tetap bugar dan sehat selama menjalankan ibadah puasa.

1. Konsultasi ke Dokter
Jika Anda mempunyai masalah kesehatan tapi ingin menjalankan ibadah puasa, sebaiknya konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter terlebih dahulu. Tanyakan mengenai pola makan, waktu yang tepat untuk meminum obat atau multivitamin dan juga jenis olahraga yang boleh dilakukan selama berpuasa.

2. Konsumsi Karbohidrat Kompleks
Konsumsilah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti ubi, jagung, , oatmeal, roti gandum atau nasi merah karena bisa membantu perut Anda kenyang lebih lama. Tambahkan makanan berserat dalam menu makan Anda. Sayuran dan kacang-kacangan adalah makanan yang mengandung kadar serat tinggi yang dapat membantu perut Anda kenyang lebih lama. Selain itu, makanan berserat dapat mencegah Anda dari gangguan pencernaan yang sering terjadi di awal-awal menjalankan ibadah puasa.

3. Tingkatkan Asupan Protein
Berpuasa adalah saat yang tepat untuk mengubah pola makan terutama jika tujuan Anda untuk menurunkan berat badan. Jika sebelumnya pola makan Anda tinggi karbohidrat (lebih banyak nasi putih ketimbang lauknya), kini saatnya Anda mengubahnya dengan pola makan tinggi protein dengan memperbanyak lauk seperti, daging, ayam, ikan, putih telur, kacang-kacangan dan makanan tinggi protein lainnya.Makanan berprotein tinggi dapat membantu perut kenyang lebih lama sekaligus mencegah katabolisme otot (penyusutan otot) selama puasa.

4. Konsumsi Lemak Baik
Lemak baik bisa didapatkan dari ikan, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan buah seperti alpukat. Lemak terutama lemak baik (HDL) juga diperlukan tubuh untuk menyerap nutrisi. Selain itu, lemak baik juga berperan penting dalam menyediakan energi tubuh, membantu menurunkan kolesterol, dan mengurangi risiko penyakit jantung.

5. Kurangi Konsumsi Garam
Sebaiknya tidak terlalu sering mengonsumsi makanan yang asin-asin baik saat sahur dan berbuka. Mengonsumsi makanan tinggi garam dapat membuat tubuh anda cepat lapar dan dehidrasi. Graham MacGregor, profesor kedokteran kardiovaskular di Wolfson Institute, London, mengatakan, untuk setiap penurunan satu gram asupan garam, kita bisa mencegah serangan jantung, gagal stroke dan jantung pada 12.000 orang,” seperti dilansir Dailymail.

6. Cukupi Kebutuhan Cairan Tubuh
Pada hari-hari biasa saat tidak berpuasa, tubuh membutuhkan minimal 8 gelas air minum setiap hari untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Lalu bagaimana mencukupi kebutuhan 8 gelas air setiap hari saat berpuasa? Mudah saja, akumulasikan jumlah yang Anda minum pada saat sahur, berbuka dan setelah berbuka.

7. Olahraga itu Perlu!
Jangan jadikan ibadah puasa sebagai halangan untuk tidak berolahraga, karena olahraga justru dapat membuat tubuh Anda tetap bugar dan kuat menjalankan ibadah puasa. Lakukan rutinitas olahraga beberapa menit menjelang waktu berbuka. Cukup lakukan olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang. Jangan berolahraga setelah makan sahur agar Anda tidak berpotensi membatalkan ibadah puasa.

Selamat berpuasa.

Minggu, 21 September 2014

Manajemen Luka


Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan penyudahan yang merupakan perupaan kembali (remodeling) jaringan.
JENIS  LUKA
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka.
1.  Berdasarkan tingkat kontaminasi
a)      Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%.
b)      Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%.
c)      Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
d)     Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.
2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
a)      Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b)      Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c)      Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d)     Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
penyemluka
Gambar 1. Tingkat Kedalaman Luka
3. Berdasarkan waktu penyembuhan luka
1.      Luka akut: yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
penyemluka13
Gambar 2. Luka Akut
2.      Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.penyemluka2
Gambar 3. Luka Kronis
MEKANISME TERJADINYA LUKA
a)      Luka insisi (Incised Wound), terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. Missal yang terjadi akibat pembedahan.
b)      Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
c)      Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
d)     Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
e)      Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
f)       Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
g)      Luka bakar (Combustio), yaitu luka akibat terkena suhu panas seperti api, matahari, listrik, maupun bahan kimia.
FASE PENYEMBUHAN LUKA
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan.
Fase Inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira – kira hari kelima.. pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi.
Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan. Tanda dan gejala klinik reaksi radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan pembengkakan (tumor).
Aktifitas seluler yang terjadi adalah pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Limfosit dan monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri (fagositosis). Fase ini disebut juga fase lamban karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah.
penyemluka31
Gambar 4. Fase Inflamasi
Fase Proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira – kira akhir minggu ketiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asama aminoglisin, dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka.
Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. Sifat ini, bersama dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan tarikan pada tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan normal. Nantinya, dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen bertambah karena ikatan intramolekul dan antar molekul.
Pada fase fibroplasia ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis. Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah yang lebih rendah atau datar, sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah yang lebih tinggi. Proses ini baru berhenti setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka. Dengan tertutupnya permukaan luka, proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses pematangan dalam fase penyudahan.
penyemluka4
Gambar 5. Fase Proliferasi
Fase Penyudahan (Remodelling)
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan – bulan dan dinyatakan berkahir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lemas serta mudah digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira – kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira – kira 3-6 bulan setelah penyembuhan.
penyemluka5
Gambar 6. Fase Remodelling
KLASIFIKASI PENYEMBUHAN
Penyembuhan luka kulit tanpa pertolongan dari luar, seperti yang telah diterangkan tadi, berjalan secara alami. Luka akan terisi jaringan granulasi dan kemudian ditutup jaringan epitel. Penyembuhan ini disebut penyembuhan sekunder atau sanatio per secundam intentionem (Latin: sanatio =  penyembuhan, per = melalui, secundus = kedua, intendere = cara menuju kepada). Cara ini biasanya makan waktu cukup lama dan meninggalkan parut yang kurang baik, terutama kalau lukanya menganga lebar.
Jenis penyembuhan yang lain adalah penyembuhan primer atau sanatio per primam intentionem, yang terjadi bila luka segera diusahakan bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Parutan yang terjadi biasanya lebih halus dan kecil.
Namun, penjahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka yang terkontaminasi berat dan /atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping atau luka tembak, misalnya, sering meninggalkan jaringan yang tidak dapat hidup yang pada pemeriksaan pertama sukar dikenal. Keadaan ini diperkirakan akan menyebabkan infeksi bila luka langsung dijahit. Luka yang demikian akan dibersihkan dan dieksisi (debridement) dahulu dan kemudian dibiarkan selama 4-7 hari. Baru selanjutnya dijahit dan dibiarkan sembuh secara primer. Cara ini umumnya disebut penyembuhan primer tertunda.
Jika, setelah dilakukan debridement, luka langsung dijahit, dapat diharapkan penyembuhan primer.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA
1.      Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.
2.      Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Pasien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
3.      Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi.
4.      Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
5.      Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar, hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
6.      Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (pus).
7.      Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
8.      Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
9.      Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.
10.  Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a.    Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
b.   Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c.    Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.